22 April 2009

Kayaknya Bakal Santai Tahun Ini.

Sejak dipindah ke Bidang Ekonomi (masih di Bappeda-Bappeda juga sih) karena Bidang Perencanaan dan Analisa Anggaran dilikuidasi, kayaknya tugas-tugas kedinasan relatif banyak berkurang.
Karena kerjaannya dikit? gak juga, wong Bidang Ekonomi tuh tugasnya kan justru berat karena merencanakan, memantau dan mengendalikan (ceilee) pengembangan dan pembangunan kota dibidang ekonomi.
Atau mungkin karena sekarang masih bulan April ya? Emang sih biasanya Januari - Mei tuh kegiatan/proyek belum banyak yang jalan. . . .
Gak tau dehh.
Kalo dulu di Anggaran, sering banget lembur ampe malem-malem, trus mendampingi bos-bos (eksekutif maupun DPRD) rapat anggaran diluar kota.
Dulu, sejak rambut gundul, sepanjang hari didepan komputer ngurus anggaran.Ampe (agak) gondrong nungguin Tim Anggaran dan Panitia Anggaran DPRD bahas APBD. . .Sekarang kayaknya gak bakalan lagi deh ktemu bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat itu waktu pembahasan APBD.
Tapi sayang juga gak bakalan dapet SPPD ama lump sump lagi . . .
Semoga dapet dari sumber laen.
(Cuz my salary couldn't effort my expenses!)

Sesat Pikir Sekolah Internasional

Pada tanggal 6 April 2009 lalu diadakan Diskusi Publik dengan tema "Membedah Kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional" di Jakarta oleh Education Forum yang dihadiri oleh para pembicara antara lain Prof. Dr. HAR Tilaar (Guru Besar Universitas Negeri Jakarta), Utomo Dananjaya (Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina), Romo E. Baskoro P. (Kepala Sekolah SMA Kanisius), Darmaningtyas (Taman Siswa), serta M. Fajri Siregar (Peneliti SBI Universitas Indonesia).

Diskusi diawali dengan paparan hasil penelitian sosiologi M.Fajri Siregar di beberapa Sekolah Nasional Plus di Jakarta. Fajri menyoroti, kurikulum dan materi pelajaran terkesan tidak terkontrol oleh pemerintah. Selain memakai kurikulum nasional, sekolah-sekolah nasional tersebut juga mengadopsi kurikulum internasional. Bahkan, pengajarnya lebih banyak warga negara asing, termasuk penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Fajri mengkhawatirkan munculnya dampak panjang sosial budaya dan nasionalisme pada anak-anak Indonesia. Para siswa begitu minim pengetahuan sosial dan budaya Indonesia, nilai-nilai historis dan nasionalisme, serta sikap individualisme yang begitu tinggi. "Kurikulum sekolah menyiapkan mereka sebagai warga dunia atau sebagai komunitas internasional, sebaliknya nilai-nilai keIndonesiaan tidak ditanamkan," ujar Fajri.

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof.Dr. HAR Tilaar mengamini temuan Fajri tersebut. Tilaar bahkan mengecam keras sikap pemerintah yang telah berperan besar bagi menjamurnya sekolah-sekolah tersebut. Tilaar mengatakan, "Pemerintah belum memiliki landasan hukum yang jelas bagi penyelenggaraan sekolah nasional plus ini". Menurutnya, itu berarti pemerintah tidak percaya terhadap sistem pendidikannya sendiri, yaitu pendidikan nasional yang bisa bersaing secara global dengan negara lain.

Nyatanya memang begitu. Kebijakan pemerintah justru mendorong bermunculannya sekolah-sekolah negeri bertaraf internasional dan berbiaya besar ini. "Seharusnya pemerintah memperkuat sistem pendidikan kita sendiri, bukan sebaliknya menciptakan sistem pendidikan berkelas-kelas yang akan menciptakan bom sosial kelak di kemudian hari," tandas Tilaar.

Sejauh ini, keberadaan sekolah nasional plus hanya merujuk pada UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Beberapa contoh sekolah nasional plus yang ada di Jakarta itu misalnya Sekolah Pelita Harapan, Sekolah Raffless Internasional, Sekolah High Scope dan masih banyak lagi tersebar di Jakarta. (dikutip dari kompas.com)

Pendapatku :

Sekolah internasional itu gak perlu!

Di sekolah toh sudah ada pelajaran Bahasa Inggris.

Internet juga tinggal praktek di lab computer.

Rasa percaya diri, demokrasi, dan tetek bengek lainnya bisa diajarkan di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN).

Sejak dulu juga aku gak respek ama Sekolah-sekolah kayak gitu.

Mendingan Sekolah Nasional Berbasis Internasional (SNBI).

Kualitasnya yang Internasional ! Bukan gayanya yang Sok Internasional !

Makanya, hilangkan sikap rendah dirimu! Buang mental tempe bongkrek-mu itu. Bangsa Kita tidak lebih rendah dari bangsa lain, taukk!

21 April 2009

How Much Shit?

Ini nih yang tertulis di hiasan dinding yang tergantung tepat diatas komputer kantor :
"A Bad Job Is Like A Toilet Bowl
The Longer You Sit On It
The More S**t You Get"

Get the message? Hiasan dinding itu adalah Post card yang aku kasih bingkai. Post card itu aku dapet waktu ke Singapura tahun 2000 lalu, So udah 9 tahun lho.
How Much Shit Do You Get All This Time?
Are You Brave Enough To Quit Your Job And Find Your Self A better One?

Remunerasi PNS

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar memandang, pegawai negeri sipil yang bergaji besar tetapi tidak menunjukkan kinerja baik sama saja telah berperilaku koruptif. Ia menyarankan perlunya perbaikan renumerasi kepegawaian yang berbasis kinerja individu (key performance indicator) di lembaga pemerintahan.

"Kalau Anda udah bergaji gede, tetapi tidak berkinerja (baik), artinya itu perilaku koruptif," tuturnya seusai menghadiri acara "Dialog Alumni Institut Teknologi Bandung", Sabtu (7/3) di Bandung. Menurutnya, perilaku koruptif ini termasuk bagian dari bahaya dan budaya korupsi secara umum di samping potensi dan perbuatan korupsi.

Untuk itu, dalam kesempatan ini, ia mengkritik pelaksanaan sistem renumerasi kepegawaian yang telah dijalankan di sejumlah departemen. Menurutnya, perlu ada suatu perbaikan kinerja PNS yang diikuti pembenahan sistem pengukuran KPI terlebih dahulu sebelum dilakukan penyesuaian renumerasi oleh departemen tertentu.

Tadinya, sewaktu pembahasan, KPK belum ingin (renumerasi). "Bukannya tidak ingin ada perbaikan kesejehteraan PNS, tetapi kami memandang lebih penting kinerjanya itu diperbaiki dulu," tuturnya. Saat ini, KPK tengah melakukan evaluasi terhadap sistem renumerasi yang antara lain telah diterapkan di Departemen Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Mahkamah Agung.

"Kalau departemen tetap mau melaksanakannya, silakan saja. Tetapi, akan terus kami pantau," tuturnya. Ia berpandangan, renumerasi atau kenaikan gaji hendaknya tidak dikaitkan dengan posisi jabatan atau eselonsi tertentu. Melainkan, karena capaian kinerja pegawai. Dalam ceramahnya, ia mengatakan, praktik renumerasi ini perlu ditunda dahulu sampai terjaminnya sistem pengukuran kinerja pegawai yang baik. Hal ini membutuhkan waktu setidaknya 10 bulan sampai satu tahun.

Kenaikan penghasilan PNS hendaknya yang berimplikasi langsung ke pelayanan masyarakat. Selain penegak hukum, ia mencontohkan, gaji petugas penjaga rel kereta api hendaknya yang ditingkatkan. "Petugas kereta api kalau kerjanya melamun, memikirkan ongkos anaknya sekolah, ya repot. Nyawa ratusan orang kan bergantung padanya," tutur Antasari.

Keberhasilan Singapura dalam mereformasi birokrasinya, ucapnya, tidak lepas dari perbaikan renumerasi, yaitu penerapan penilaian berbasis kinerja sejak 1952.

(Kutipan dari) Kompas.Com

Perumahan PNS Kota Salatiga

Pemerintah Kota Salatiga merencanakan membangun Perumahan bagi PNS yang belum memiliki rumah di lahan eks tanah bengkok. Lokasinya di Kecamatan Argomulyo dan Kecamatan Sidomukti.
Karena belum punya rumah aku ikutan daftar juga sih, tapi kok gak kebagian? Sebagian yang dapat malah para pejabat. Piye to? (pasrah).
Akhirnya gitu deh, jadi males kalo denger pejabat tertentu yang ngakunya peduli dengan kesejahteraan staf pemkot ngomong soal menyejahterakan staf. Wong, buktinya dia mikirin dirinya sendiri, udah punya rumah dan tanah dimana-mana masih minta jatah aja di perumahan PNS.
Huuuu. . .!

Is This Distributive Justice?

Tunjangan bagi pejabat dan staf di lingkungan Pemerintah Kota Salatiga kok jauh sekali selisihnya?
Apa benar tanggungjawab, tugas dan beban kerja yang harus dipikul mereka begitu beratnya sehingga begitu besar selisih tunjangan yang didapat?
Bukankah sebagian tanggungjawab, tugas dan beban kerja tersebut masih didelegasikan kepada para staf?

20 April 2009

Auld Lang Syne (1)

Kadang-kadang, hanya kadang-kadang, aku teringat nama-nama ini :
  1. Harisandy Damashinta
  2. Dyan Herningtyas
  3. Anik Budiarti
  4. Fithri Lillah Setyawati
Khususnya Harisandy Damashinta dan Fithri Lillah Setyawati, karena benar-benar aku gak pernah dengar apapun tentang mereka lagi, apalagi dari mereka.
I Fell In Love To Them Once. Damned it! I must have lost my mind! Kok bisa penasaran kayak gini?

Beasiswa S2 Bappenas-ku

13 April lalu berarti sudah 6 bulan sejak dikeluarkannya surat Nomor : 5721 /P.01/10/2008 tangggal 13 Oktober 2008 tentang Pengembalian Peserta Program Beasiswa Pusbindiklatren Tahun 2008, namaku tidak tercantum dalam salah satu kriteria berikut :
1. Tidak Memenuhi Syarat (TMS) TOEFL
Peserta yang telah lulus TPA, tetapi tidak lulus TOEFL pada tanggal 20 September 2008.
2. Tidak Memenuhi Syarat (TMS) TPA
Peserta yang telah lulus Administrasi, tetapi tidak lulus TPA tanggal 30 Agustus 2008.
3. Tidak Memenuhi Syarat (TMS) Administrasi
Peserta yang tidak memenuhi persyaratan administrasi beasiswa Pusbindiklatren.
Sehingga (semoga) dapat disimpulkan bahwa aku lolos pada tahapan-tahapan seleksi beasiswa S2 dari Bappenas tersebut. Tapi kok sampe sekarang gak ada kabar lagi? Emang sih Seleksi Gelombang II masih berlangsung (TOEFL Gelombang II baru akan diselenggarakan 25 April 2009 ini), tapi bener-bener gak sabar deh!
Semoga aku ngedapetin beasiswa itu! Magister Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Undip, Tunggu kedatanganku!

17 April 2009

Salut, Pak Pangdam IV Diponegoro!

Tanggal 15-16 April 2009 kemarin, aku mengikuti pameran Batik yang dibuka oleh Ibu Bibit Waluyo di Gedung Grhadika Bhakti Pradja, Semarang (Kantor Gurbernur).
Yang bikin aku surprised adalah dalam pembukaan acara, diantara Muspida Jawa Tengah selain Wakil Gurbernur Ibu Rustriningsih, Pangdam IV Diponegoro ternyata hadir secara pribadi! Dalam acara tersebut juga terkesan beliau adalah orang yang supel dan ramah.Salut Buat Pangdam IV Diponegoro!

(Barangkali Muspida yang lain sibuk, atau menganggap acara tersebut kurang penting. Namun menurutku sebenarnya kehadiran Muspida dalam acara-acara sekecil apapun sangat penting dan signifikan untuk menjaga image dan empati masyarakat terhadap yang bersangkutan, terlebih bila ybs. berminat untuk ikut pilkada setelah pensiun).

Kapan Kaum Marhaenis dan Marhaen Bersatu?

Kami, kita Kaum Marhaenis dan Marhaen sering dipecundangi.
Preseden terakhir : Pemilu Legislatif 2009 kemarin!
Sepertinya penyebabnya cuma satu :
KITA TIDAK BERSATU.
Apa semua melupakan "Samen Bundelling Van Alle Revolutionaire Krachten" hanya karena kepentingan politis (kekuasaan) sesaat dan semata?

(Ah, sial! terkutuklah kalian Kaum Marhaenis dan Marhaen Oportunis).

Polisi Kita Kok Masih Begitu?

Beberapa hari yang lalu seorang kerabatku mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motornya menuju tempat bekerja karena diserempet oleh pengendara motor lain yang kurang hati-hati di daerah randusari, Semarang.
Dahinya harus dijahit sebanyak 15 jahitan dan lututnya harus dioperasi. Motornya ditahan polisi untuk barang bukti. Untunglah si penyerempet cukup bertanggungjawab dengan tidak melarikan diri usai peristiwa naas itu.
Ketika hendak mengambil motornya yang ditahan polisi, tau gak apa yang terjadi? (pasti semua tau, dehh. kan cerita lama) Pak polisi minta tebusan Rp. 1 Juta! Bayangin, udah jadi korban kecelakaan yang harus menanggung biaya rumah sakit dan perbaikan motor karena si pelaku gak mungkin mengganti 100% biaya-biaya tersebut, masih pula dimintai uang oleh pak Polisi yang (katanya) berslogan melindungi dan melayani. Setelah nego, akhirnya pak Polisi mau juga diberi Rp. 500 Ribu.
Aku jadi bertanya, kok bisa sih polisi kita masih seperti itu. Apalagi per Januari 2009 ini mereka juga mendapatkan kenaikan gaji yang tidak sedikit. Bahkan dibandingkan PNS, kenaikan gaji Polisi tuh lebih besar.Kapan dong KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) masuk institusi kepolisian? Biar pada kapok! Jangan cuma Pemda dan Legislatif saja yang diutik-utik. Masa sih KPK takut?
Kapan Polri mereformasi dirinya sendiri?

13 April 2009

Pemilu

Kamis 9 April 2009 lalu Indonesia melaksanakan pemilu. Sebenarnya aku agak apatis karena terbukti selama ini pemilu belum terbukti menghasilkan wakil-wakil rakyat dan pemimpin yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat.

Sempat debat kusir dengan ibuku, karena menurut beliau sebagai warganegara yang baik kita harus berpartisipasi dalam pemilu. Well, untuk menyenangkan hati beliau yang telah melahirkan dan merawatku selama ini dengan berat hati aku berangkat juga ke TPS (Tempat Pemungutan Suara). Yang penting beliau senang karena aku udah ke TPS.

PARTAI/CALEG YANG AKU CONTRENG? Karena gak ada yang sreg di hati, jadinya yaa gitu dehh. . . .