12 Februari 2009

Mengatasi Kemiskinan? Majukan Pertanian!

Selama ini kita dinina-bobokan dengan mimpi-mimpi industrialisasi dan keyakinan yang salah bahwa kemajuan dan kemakmuran hanya dapat diperoleh melalui sektor industri. Faktanya hingga detik ini sebagian besar penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani dan mayoritas penduduk miskin di Indonesia adalah juga petani. Dengan demikian dalam mengatasi permasalahan kemiskinan di Indonesia, pertanian harus menjadi perhatian utama.
Hal ini sejalan dengan keyakinan Wiranto, Ketua Umum Partai HANURA, bahwa salah satu hal yang seharusnya diprioritaskan untuk memerangi kemiskinan adalah ketahanan pangan. Menurut Wiranto, pemerintah tidak boleh ragu-ragu untuk mengubah kebijakan bidang pertanian. "Pertanian harus kembali menjadi basis pembangunan ekonomi." Untuk mewujudkannya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu modal, pasar, dan regulasi. Pemerintah harus serius mendorong masyarakat untuk mau kembali menjadikan pertanian sebagai basis utama perekonomian masyarakat (www.tempointeraktif.com).
Perlindungan terhadap masalah pertanian juga harus dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk regulasi maupun aksi. Karena pembangunan pertanian tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan pola lama yang berfokus pada proses cocok tanamnya saja.
Selain itu ketersediaan pangan yang murah dan mencukupi merupakan modal dasar bagi pembangunan Indonesia dan secara tidak langsung mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Tidak mungkin suatu bangsa menjadi bangsa yang berkualitas bila rakyatnya kelaparan. Tidak mungkin anak-anak kita dapat tumbuh menjadi generasi yang cakap bila mereka kurang gizi akibat tidak tercukupi kebutuhan pangannya. Selain itu industrialisasi juga dapat dilakukan dari sektor pertanian, sebagaimana yang telah berhasil dilakukan di Amerika dan Jepang.
Menurut Meier (1985 : 197), dari pengalaman program-program pembangunan, jelaslah bahwa suatu negara miskin tidak boleh mengabaikan sektor pertaniannya. Produktifitas sektor pertanian yang lebih tinggi diperlukan untuk menyediakan pangan bagi sektor perkotaan yang meluas dan penduduk yang berkembang. Mengadakan bahan-bahan mentah dari industri dalam negeri dan menciptakan surplus yang dapat dipasarkan dalam sektor pertanian dan dengan demikian mengadakan permintaan akan komoditi-komoditi non pertanian, memberi tambahan penghasilan berupa devisa dan menyumbang pembentukan modal.
Surplus bahan makanan yang makin membesar akan sejalan dengan berkembangnya sektor industri. Secara singkat, laju dengan mana sektor-sektor non pertanian dapat meluas, akhirnya akan tergantung dari laju peningkatan pengadaan-pengadaan pertanian dan laju pembangunan suatu negara harus dibatasi kalau dasar pertaniannya diabaikan. Keterbelakangan sektor pertanian menimbulkan halangan besar untuk mempercepat pembangunan disebagian negara berkembang. Laju pertumbuhan rata-rata pertahun pengadaan bahan-bahan pertanian dan bahan-bahan pangan telah menurun selama dasawarsa lalu dan rintangan dalam bidang pertanian menyebabkan kekecewaan dalam program pembangunan.
Pengelolaan sektor pertanian Indonesia harus ditujukan untuk meningkatkan produktifitas dan menurunkan biaya produksi sehingga dimasa depan Indonesia justru mampu menjadi salah satu pengekspor beras terbesar di dunia. Laju pertumbuhan produksi pangan nasional dalam dasawarsa terakhir cenderung terus menurun sedangkan jumlah penduduk terus meningkat yang berarti semakin meningkat pula ketergantungan pangan nasional pada impor, hal ini merupakan bahaya laten bagi kemandirian dan ketahanan pangan nasional dan berpotensi menyebabkan rakyat terus miskin .
Produksi pangan nasional yang terus menurun terutama disebabkan karena produktivitas hasil budidaya petani masih rendah, penurunan kualitas lahan dan stagnasi perluasan lahan pertanian karena pengembangan lahan pertanian tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain seperti permukiman.
Perlu upaya mengatasi permasalahan tersebut dengan terobosan yang konstruktif untuk meningkatkan produktivitas melalui penerapan teknologi budidaya produktivitas tinggi dengan memberikan subsidi teknologi kepada petani misalnya teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z, melakukan Soil Management di lahan pertanian dengan mengintroduksikan agen mikroba penyubur dan nutrisi (seperti pupuk berimbang) untuk mengembalikan keseimbangan alami yang membangun kesuburan tanah dan tanaman diatasnya, melakukan eksplorasi potensi genetik yang memiliki performa unggul dengan hasil maksimal seperti varietas hibrida dan tipe baru dengan memberikan perlakuan presisi kawalan teknologi yang sesuai sehingga efisiensi hasil maksimal dapat tercapai. Upaya memacu pertumbuhan produksi pangan dapat dilakukan dengan membuka areal lahan pertanian baru yang produktif pada lahan pasang surut dan lahan lebak, serta lahan kering yang sebagian besar belum tergarap secara optimal.
Untuk mewujudkan swasembada dan kemandirian serta ketahanan pangan dalam satu dasawarsa ke depan (2010), diperlukan perangkat kebijakan yang mengarah pada perbaikan implementasi sistem agribisnis dan tataniaga (impor) bahan pangan. Disamping itu laju pertumbuhan produksi nasional harus dipacu pertahun secara bertahap, dari komoditas padi/beras dari tahun 2003 sebesar 1,8 % menjadi 2,1% pada tahun 2010.
Kedepan pemberdayaan petani perlu ditingkatkan melalui penggalakan koperasi dan kelompok tani, pendampingan (assesment) lembaga terkait, bantuan permodalan dan peralatan, pelatihan penerapan teknologi dan pengelolaan hasil pertanian dan yang tak kalah penting adalah peningkatan kemampuan manajerial dan enterpreneurship petani. Penambahan lahan pertanian dan pemberdayaan petani berarti juga penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Yakinlah, pertanian adalah kunci kemajuan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan!

Daftar Pustaka :
Meier, gerald M., 1985, “Ekonomi Pembangunan Negara berkembang”, Bina Aksara, Jakarta.
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/03/27/brk,20080327-119926

0 komentar: